Senin, 03 November 2008

Panas Bumi Jadi Energi Alternatif yang Potensial

Kamis, 23 November 2006
JAKARTA (Suara Karya)

Pemerintah Indonesia harus kreatif mencari sumber energi alternatif non-BBM (bahan bakar mingyak) untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik yang semakin besar. Salah satunya, pemerintah bisa memanfaatkan potensi energi panas bumi.
"Potensi total panas bumi yang dimiliki Indonesia sebesar 27.000 MW, sementara yang digunakan baru berkisar sekitar empat persen saja. Nah, potensi energi panas bumi ini bisa menjadi sumber kebutuhan tenaga listri yang sangat potensial untuk dikembangkan," kata Ketua Umum Forum Indonesia untuk Indonesia, Yusuf Senopati Riyanto, di Jakarta, Rabu (22/11).
Dia mengingatkan, harga bahan bakar minyak semakin mahal, sehingga tidak efisien lagi untuk digunakan sebagai sumber kebutuhan energi listrik. "Kalau tetap menggunakan energi BBM, harga listrik menjadi mahal dan akan terus mengalami kenaikan. Padahal, tidak semua masyarakat dan industri bisa membayar harga listri yang mahal ini," ujarnya.
Yusuf Senopati Riyanto mengingatkan, berdasarkan UUD 1945 dan UUD 1945 hasil amandemen, listrik adalah kebutuhan dasar yang harus disediakan pemerintah karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Sementara di sisi lain, pemerintah juga tidak memiliki dana untuk terus menerus memberikan subsidi agar rakyat bisa memperoleh harga listrik yang murah.
Karena itulah, Forum Indonesia untuk Indonesia ini meminta pemerintah agar memperbaiki berbagai aturan dan ketentuan yang tidak tegas menyangkut investasi dalam bidang energi non-BBM.
"Kalau tetap mempertahankan aturan yang sekarang, saya yakin investor asing tidak akan tertarik untuk menanamkan modalnya membangun infrastruktur di bidang kelistrikan dengan memanfaatkan energi panas bumi, batu bara, biofuel, nuklir dan sebagainya," katanya lagi.
Di lain pihak, Yusuf Senopati Riyanto menyambut baik sikap pemerintah yang membuka pintu bagi investor dari China yang telah membiayai dan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Dia menampik anggapan bahwa "produk" dari China meski unggul dari segi harga, tapi berkualitas rendah. (Andrian)